
“Saya berharap pihak Bank NTT sebagai salah satu pemangku kepentingan dari pihak swasta di Manggarai Timur pada pertemuan ini dapat mengetahui persoalan yang dialami oleh para petani di Manggarai Timur dan juga berkomitmen untuk ikut terlibat mengatasi dampak perubahan iklim,” ungkap Richard.
Adapun Yohanes Manubelu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Manggarai Timur mengatakan kalau melihat data produksi padi pada 5 tahun terakhir dan ada fakta sedang terjadinya perubahan iklim maka Manggarai Timur berpotensi mengalami situasi rawan pangan.
Situasi ini harus diberi perhatian serius melalui tersedianya anggaran yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan.
Pada tahun 2023, jelas Ade, beberapa kegiatan untuk meningkatan ketahanan pangan masyarakat telah dilaksanakan beberapa kegiatan, antara lain, pembangunan embung, pengembangan sorgum, pembangunan Unit Pengolahan Hasil Sorgum di 2 tempat, Pembangunan dan rehabilitasi jaringan Irigasi, Pengadaan Alsintan, dan Unit Pengolahan Hasil Jagung. Yang belum dilaksanakan adalah pembangunan UPH pupuk organik. Akan tetapi pendanaan untuk kegiatan-kegiatan tadi bersumber dari APBN, dana Pokir dari salah anggota DPR-RI serta hasil kerjasama dengan Yayasan KEHATI Jakarta dan Yayasan Ayo Indonesia.
Pada tahun 2024 ini, ujar Ade, dalam RKPD dari Dinas Pertanian dan Perkebunan akan dilaksanakan beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, yaitu, Sekolah Lapang Pertanian sebanyak 16 kelas, Menerapakan pola tanam padi Jajar Legowo, Pengembangan Sorgum, Pelatihan tehnis bagi petani, Penyedian Fasilitas Green House bagi Petani hortikultura, Pengembangan jagung untuk produksi benih dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







