Petani Sayur-sayuran Bangun Kemitraan Bisnis dengan Distributor

Hanya, beberapa petani di Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, Satar Mese Utara, Lelak, Rahong Utara, dan Wae Ri’I yang selama ini menjadi pemasok sayur-sayuran ke pasar ruteng namun belum memenuhi permintaan pasar (konsumen), volumenya sangat sedikit. Apalagi mereka tidak memproduksi sayur-sayuran setiap bulan dengan alasan kurang tersedia pupuk dan karena faktor hujan.

Padahal, pada musim hujan harga sayur-sayuran cukup baik dengan kata lain harga belinya lumayan tinggi saat musim seperti itu.

“Petani kita di manggarai tidak menangkap peluang ini sehingga kami sebagai pembeli mau tidak mau harus membeli sayur-sayuran dari luar manggarai meskipun kami sangat menyesal juga, kenapa harus membeli dalam jumlah banyak sayur-sayuran dari luar. Kenapa uang kami tidak diberikan kepada petani-petani di Manggarai. Tidak salah memang karena jumlah sayur-sayuran yang disediakan oleh petani di manggarai sangat sedikit,” ungkap Niko.

Pengiriman sayur-sayuran setiap hari dari luar, khususnya dari Kabupaten Ngada, kata niko, sangat banyak volumenya, petani kita hanya jadi penonton saja tidak memandang situasi ini sebagai peluang ekonomi. Kurang lebih 10 persen sayur-sayuran yang masuk ke pasar ruteng berasal dari Manggarai Barat dan Timur terutama jenis sayur bayam, kangkung, ketimun dan daun singkong sedangkan 40-an persen dipasok oleh petani-petani di Manggarai.

Kelemahan petani kita, ujar Niko, tidak membaca peluang pasar, terlalu banyak waktu untuk bertamu atau lejong yang tidak perlu. Semestinya, mereka harus mengetahui situasi pasar dan kurangi lejong setelah itu fokus usaha di kebun bahkan kelemahan lain selalu saja dijumpai petani kita yang masih sering mengeluh, seperti tidak tanam sayur karena masalah hujan, musim hujan bisa menjadi peluang yang menjanjikan untuk beberapa jenis sayur, sepeti kol, sawi, fanboks.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel