Rahim Ibu Pertiwi lagi ‘kesakitan siap lahirkan pemimpin baru.’ Namun mitologia khaos di jelang kisah itu tampaknya tak kosong. Alam naga merah sudah lama mencekam. Di jalanan kota dan ruang terbuka, ‘si naga merah’ sudah mengekor dalam demo berjilid-jilid. Hoaks, berita bohong, ujaran penuh benci, claiming sepihak penuh sesat dan pembunuhan karakter adalah strategi dan operasi si naga merah itu.
Mungkinkah ‘alam naga merah’ itu dirancang regim dan semua yang bertakhta di lingkarannya? Yang didakwah ingin langgengkan nikmatnya oligarki kekuasaan?
Tetapi, tidakkah alam naga merah bisa dialamatkan juga pada strategi dan tindak ‘licik dan kotor’ dari para dukun politik yang uar-uarkan mantra-mantra penuh kebencian dan pembunuhan karakter? Yang hanya ingin bikin tensi perseteruan semakin menanjak dan memuncak?
Ibu Pertiwi tak pernah kekurangan anggota dan kelompok barisan sakit hati. Tak kehabisan para pengangguran dan gelandangan politik, yang merasa terbuang dalam waktu tak menentu. Ibu Pertiwi tak ketiadaan siapapun yang lagi panik akan keamanan dan keselamatan kepentingan sendiri. Dan dari situlah ‘alam naga merah’ mesti dikreasi sebisanya.
Ibu Pertiwi tentu tak ingin marwah negeri direndahkan. Tak ingin dikalahkan oleh alam naga merah nan seram itu. Kemuliaan negeri, setidaknya, ditentukan oleh anak negeri sendiri, yang segera dilahirkan sebagai pemimpin.
Dan marilah kita menyambutnya dengan penuh perjuangan! Dan, sekali lagi, sedikitpun tak boleh berantakan oleh terjangan ‘ekor naga merah padam itu.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





