Oleh: Adrianus Marselus Nggoro★
infopertama.com – Kita terbiasa mengutuk gerakan sesar. Setiap kali layar televisi dipenuhi puing dan tangis akibat gempa, lempeng bumi langsung disalahkan. Itu manusiawi. Karena yang dipertaruhkan adalah nyawa.
Namun, bila kita berhenti hanya pada kutukan, kita akan melewatkan separuh kebenaran besar tentang bumi ini. Sebab sesar bukan hanya penghancur. Ia juga tukang bangun.
Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dan tak lama setelahnya keraknya mulai terpecah. Teori tektonik lempeng yang dirumuskan sejak 1960-an dan kini diajarkan di semua buku geologi dasar, seperti Physical Geology terbitan Plummer dkk. serta modul Badan Geologi KESDM, menjelaskan: litosfer kita terbagi dalam 7 lempeng besar dan puluhan lempeng kecil yang terus bergerak 2–10 cm per tahun. Kecepatan itu kira-kira sepanjang kuku jari tumbuh dalam setahun. Lambat, tetapi akumulasi jutaan tahunnya mampu mengangkat gunung.
Dari proses itulah lahir Himalaya ketika India menubruk Eurasia. Lahir pula Bukit Barisan yang membelah Sumatra dan Pegunungan Jayawijaya di Papua. Tanpa topografi ini, air hujan tidak punya punggung untuk turun, dan peradaban agraris kita kehilangan arah.
Indonesia membayar lunas karena duduk di pertemuan tiga lempeng besar: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Hal ini ditegaskan dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 yang dimutakhirkan Badan Geologi pada 2023. Kita langganan gempa, tapi kita juga langganan berkah.
Berkah pertama bernama kesuburan. Subduksi lempeng melahirkan gunung api. Letusannya menakutkan, tetapi abunya adalah titipan unsur hara. Ribuan tahun pengendapan membentuk tanah Andosol yang gembur. Data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian 2018 mencatat, sebagian besar sentra sayur dataran tinggi dan kebun kopi terbaik kita tumbuh di tanah vulkanik muda. Dari Merapi sampai Bromo, dari Flores sampai Minahasa, petani kita sejatinya hidup dari amarah bumi yang sudah dingin.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












