Karena itu muncul ungkapan penti weki peso beo: menyadari dan mensyukuri kehadiran serta persahabatan manusia dan alam. Penti adalah ritual, weki adalah kita, peso beo adalah kampung dan isinya. Artinya jelas: kita tidak pernah berdiri sendiri. Kita hidup karena bumi bergerak, dan bumi bergerak karena kita menjaganya.
Nai Ca Anggit Tuka Celeng: Kekuatan Kita Saat Sesar Bergerak
Namun, persahabatan dengan alam juga menuntut persatuan antarmanusia. Di saat gempa datang, logika teknokratis saja tidak cukup. Yang menyelamatkan adalah gotong royong.
Orang Manggarai punya perbendaharaan kata untuk itu. Nai ca anggit tuka celeng artinya sehati dan sepikir. Saat gempa, warga tidak saling menyalahkan. Mereka duduk bersama, menakar risiko bersama, memutuskan evakuasi bersama.
Ada juga kope oles kongkol: persatuan. Tenda pengungsian didirikan bersama. Dapur umum dimasak bersama. Luka ditanggung bersama.
Prinsip cama lewang ngger pe’ang cama poe nggerone mengajarkan persatuan dalam urusan internal dan eksternal. Di dalam kampung, tua-muda bergandeng. Keluar kampung, kita juga merangkul relawan, TNI-Polri, BNPB, dan NGO. Bencana tidak bisa diselesaikan sendiri.
Dan yang paling menggetarkan: wa wae cama eta golo cama-cama. Secara harfiah: “satu air satu bukit bersama-sama”. Maknanya empati dan solidaritas. Orang yang rumahnya roboh tidak dianggap beban. Ia dianggap saudara yang harus dipapah.
Kearifan ini bukan romantisme. Ia adalah sistem penanggulangan bencana tertua. Jauh sebelum ada sirine dan aplikasi, masyarakat sudah punya protokol sosial: saling menjaga, saling berbagi, dan saling menguatkan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











