Mesin Bumi yang Juga Menyuburkan

Berkah kedua bernama energi. Di zona sesar, panas magma terdorong dekat ke permukaan. Menurut Statistik Energi Panas Bumi KESDM 2024, Indonesia memiliki potensi 24 GW dan menguasai sekitar 40 persen cadangan dunia. Kamojang yang sudah beroperasi sejak 1983, Sarulla di Sumatra Utara, dan Lahendong di Sulawesi Utara adalah bukti nyata: luka bumi bisa diubah menjadi listrik bersih. Di tengah target Net Zero Emission 2060, ini adalah modal yang tidak dimiliki banyak negara.

Berkah ketiga bernama kekayaan. Cekungan yang dibentuk tektonik memerangkap minyak, gas, dan batu bara. Retakan dan aktivitas magmatik juga melahirkan urat emas dan tembaga. Buku Metals and Society yang disusun ahli geologi ekonomi Springer 2017 menyebut endapan porfiri di busur vulkanik seperti Grasberg di Papua adalah produk langsung dari penunjaman lempeng.

Berkah keempat bernama air dan iklim. Sesar menciptakan mata air panas, danau tektonik, dan akuifer rekahan. Di laut, palung hasil penunjaman menjadi tempat karbon mengendap. Laporan IPCC AR6 2021 menyebut proses di dasar laut ini sebagai salah satu rem alami bagi perubahan iklim.

Gendang One Lingko Pe’ang: Belajar Bersahabat dengan Sesar

Di Manggarai, Flores, ada istilah gendang one lingko pe’ang. Ia bukan sekadar nama tempat. Ia adalah cara pandang: lingkaran hidup yang mengikat manusia dengan manusia, manusia dengan tanah, air, dan gunung.

Dalam kearifan itu, bencana tidak dipisahkan dari berkah. Tanah yang retak oleh sesar adalah tanah yang juga menyuburkan. Air panas yang keluar dari patahan adalah obat. Abu yang menutup kampung hari ini adalah pupuk untuk panen tahun depan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel