Neka Gege Tenda Le, Neka Ganggu Tenda Lau: Keseimbangan Hidup di Atas Sesar
Di atas semua itu, orang Manggarai mengingatkan satu falsafah penyeimbang: neka gege tenda le, neka ganggu tenda lau. Jangan terlalu memaksa ke darat, jangan terlalu mengganggu ke laut.
Maknanya ganda. Secara lahiriah, ini soal rumah dan tata ruang. Jangan mendirikan rumah di punggung sesar aktif, jangan menebang hutan di lereng curam, jangan merusak daerah resapan. Secara mental-spiritual, ini soal sikap batin saat gempa. Jangan panik berlebihan, jangan pula abai. Hadapi dengan tenang, dengan kesiapan, dengan rasa hormat pada alam.
Gege adalah daratan tempat kita berpijak. Lau adalah laut dan langit tempat kita menggantungkan harapan. Hidup yang seimbang, serasi, dan selaras adalah kunci bertahan di atas mesin bumi yang terus bergerak.
Jika kita hanya mengejar pembangunan tanpa batas, kita gege tenda le. Jika kita hanya takut dan lari tanpa mengelola risiko, kita ganggu tenda lau. Keseimbangan itulah yang diajarkan leluhur.
Bumi tidak pernah netral. Ia merusak sekaligus membangun. Data dan Informasi Bencana Indonesia BNPB 2024 mencatat kerugian akibat bencana geologi mencapai puluhan triliun rupiah dalam 5 tahun terakhir. Angka itu tamparan agar kita tidak lengah.
Oleh karena itu, respons kita harus memiliki empat pilar. Pertama, defensif. Tata ruang wajib tunduk pada peta sesar aktif PVMBG. Rumah, sekolah, dan rumah sakit harus tahan gempa.
Kedua, ofensif. Kita harus mengelola geothermal, menjaga lahan vulkanik dengan pertanian konservasi, dan menambang mineral kritis untuk transisi energi dengan tata kelola bersih.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











