Ruteng, infopertama.com – Wilayah Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara menyimpan sejarah panjang potensi bencana geologi yang amat destruktif. Di balik keindahan alam kawasan ini, tersembunyi struktur geologi aktif bernama Sesar Naik Flores (Flores Back-Arc Thrust).
Catatan sejarah yang dihimpun oleh pakar kebencanaan Daryono memperlihatkan betapa jalur sesar ini telah berulang kali memicu guncangan hebat dan gelombang tsunami mematikan sejak abad ke-17.
Rangkaian peristiwa kelam dimulai sejak Februari 1648, ketika gempa kuat menghantam daratan Flores dan menimbulkan kerusakan parah. Tragedi dahsyat berikutnya terjadi di Bali pada November 1815 saat gempa berkekuatan magnitudo 7,0 yang disusul tsunami besar menelan lebih dari 11.400 korban jiwa.
Tak berhenti di situ, wilayah Bima berulang kali diguncang gempa dahsyat dan tsunami sepanjang abad ke-19, termasuk gempa hebat pada November 1818 serta peristiwa mematikan pada Desember 1820 yang merenggut ratusan nyawa hingga ke daratan Flores.
Guncangan demi guncangan terus berlanjut di berbagai titik busur kepulauan tersebut. Wilayah Lombok mencatatkan jejak kerusakan dan gelombang tsunami pada Juli 1856, disusul bencana di Alor pada April 1896 yang menyebabkan ratusan warga meninggal dunia.
Memasuki era modern, peristiwa kelam kembali terulang dalam periode yang berdekatan. Bencana mematikan menghantam Seririt Bali pada Juli 1976 dengan ratusan korban jiwa, lalu serangkaian gempa dan tsunami beruntun kembali mengguncang Lombok sepanjang tahun 1979.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












