Bencana yang tak kalah dahsyat mengguncang Flores dan Larantuka pada akhir tahun 1982 serta Kalabahi pada Juli 1991. Namun, salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Indonesia modern terjadi pada 12 Desember 1992 di Flores.
Gempa megathrust lokal berkekuatan magnitudo 7,8 yang memicu tsunami dahsyat menerjang pesisir pantai dan merenggut lebih dari 2.500 nyawa.

Jalur sesar aktif ini terus membuktikan keberadaannya melalui rentetan gempa mematikan di Alor pada November 2004, Sumbawa pada November 2007, hingga bencana masif yang meluluhlantakkan Lombok pada Agustus 2018.
Bahkan, catatan terbaru pada pertengahan Agustus 2026 kembali mengonfirmasi keaktifan Sesar Naik Flores yang memicu gempa magnitudo 7,7 dan gelombang tsunami hingga menelan puluhan korban jiwa.
Rangkaian catatan historis ini mempertegas bahwa Sesar Naik Flores adalah sumber kegempaan sangat aktif yang tidak boleh diabaikan. Keberadaannya menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat di Bali hingga Nusa Tenggara untuk terus memperkuat infrastruktur tahan gempa, memantau sistem peringatan dini tsunami, serta membangun budaya mitigasi bencana yang berkelanjutan demi meminimalkan risiko di masa depan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











