Ketiga, kultural. Menghidupkan kembali nai ca anggit tuka celeng, kope oles kongkol, cama lewang ngger pe’ang, dan wa wae cama eta golo.
Keempat, spiritual-ekologis. Mengamalkan neka gege tenda le, neka ganggu tenda lau agar hidup kita tidak melawan irama bumi.
Mengutuk sesar sama dengan mengutuk mesin yang membuat kita bisa hidup. Kita tidak bisa mematikan mesin itu. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menungganginya: memetik manfaatnya, memagari risikonya, dan menguatkan sesama saat ia berguncang.
Indonesia tidak bisa memilih letak geografis. Tetapi kita bisa memilih kebijaksanaan. Menjadi korban lempeng, atau menjadi bangsa yang hidup berdampingan dengannya — dalam semangat gendang one lingko pe’ang, penti weki peso beo, dan neka gege tenda le, neka ganggu tenda lau.
★Penulis adalah Pakar Hukum Adat, HAM, dan Gender
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











