Menurutnya, kehadiran alat panen modern memang menimbulkan berbagai dinamika di tengah masyarakat, terutama bagi pekerja panen dan pemilik alat perontok padi tradisional yang merasa terdampak. Namun demikian, modernisasi pertanian merupakan bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian.
“Kita berada pada persimpangan pilihan, apakah tetap menggunakan cara konvensional atau bergerak selangkah lebih maju dengan teknologi. Ini merupakan bagian dari proses pembangunan yang selalu menghadirkan dinamika,” ujarnya.
Terkait adanya keluhan mengenai kerusakan pematang sawah akibat operasional alat berat, Ferdy mengakui hal tersebut dapat terjadi. Namun menurutnya, dampak tersebut diimbangi dengan penghematan biaya panen yang diperoleh petani.
Ferdy menjelaskan bahwa dalam pertemuan sosialisasi tersebut para petani di kedua desa sepakat untuk melakukan uji coba panen menggunakan combine harvester.
Berdasarkan kesepakatan itu, pada 17 Mei 2026 satu unit combine harvester mulai dioperasikan untuk mendukung proses panen. Antusiasme petani terhadap penggunaan alat tersebut ternyata cukup tinggi.
Pada 21 Mei 2026 para petani meminta penambahan satu unit lagi karena manfaat yang dirasakan selama masa uji coba. Tidak lama kemudian, mereka kembali mengusulkan penambahan satu unit tambahan.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, pada 27 Mei 2026 sebanyak tiga unit combine harvester telah beroperasi untuk melakukan uji coba panen di wilayah Kecamatan Ruteng, khususnya di Lingko Lanar dan Lingko Maras.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











