Ia juga menambahkan soal kemungkinan adanya unsur sihir dalam pernikahan dini tersebut.
“YL bisa saja terkena guna-guna orang Sasak karena kedua pengantin masih anak-anak kecuali pengantin dewasa,” imbuhnya.
Tingkah laku pengantin perempuan yang menunjukkan gestur “salam metal”, berteriak, dan bersikap seperti remaja ABG saat berada di pelaminan menambah kontroversi. Warganet terbelah antara yang mendukung dan yang mengecam pernikahan tersebut.
Sebagian merasa miris dan prihatin, menganggap hal ini sebagai kegagalan sistem perlindungan anak dan kurangnya edukasi keluarga. Namun sebagian lain menyebut ini bagian dari adat dan kebiasaan lokal yang tidak bisa diukur dengan standar luar.
Fenomena pengantin anak viral di NTB ini kembali menyorot pentingnya perlindungan anak dan edukasi keluarga tentang risiko pernikahan di usia belia.
Pakar menyebutkan bahwa anak-anak yang menikah terlalu muda rentan mengalami:
- Tekanan mental dan psikologis,
- Putus sekolah,
- Kesulitan ekonomi,
- serta resiko kesehatan saat menjalani kehamilan dan persalinan.
Kejadian ini menjadi cermin perlunya penegakan hukum perlindungan anak yang lebih tegas, serta edukasi menyeluruh di daerah pedesaan mengenai batas usia layak menikah. Tanpa itu, generasi muda berisiko kehilangan masa depannya karena keputusan yang diambil terlalu dini—baik karena tekanan sosial maupun budaya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan