Pelita Amanah di Kota Seribu gereja

Momen haru semakin memuncak ketika putrinya sendiri, Mufidah Syahfitrah, S.Pd., yang kini telah menjadi guru dan mengajar mata pelajaran yang sama persis: Fiqih dan Al-Qur’an Hadits, berdiri di sampingnya dan luar biasanya tempat duduk yang dahulu diduduki ayahnya ditempati kembali oleh putri kesayangannya.

Pak Hamzah memeluk putrinya erat. Baginya, penghargaan ini adalah bentuk kecintaan dan perhatian serta rasa hormat MIS Amanah Ruteng yang sangat membahagiakannya.

 

Ada juga momen paling mengharukan adalah saat putrinya sendiri, Mufidah Syahfitra, S.Pd., maju ke podium. Wajah Mufidah memancarkan tekad yang sama dengan ayahnya. Ia telah resmi menjadi gru di MIS Amanah, meneruskan jejak sang ayah.

Warisan Abadi dan Nasihat Bijak

Kini, Bapak Hamzah sedang menikmati banyak waktu luangnya bersama keluarga di rumah. Ia telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di MIS Amanah Ruteng. Ilmu dan nilai-nilai yang diajarkannya terus mengalir melalui Mufidah, yang kini mengemban amanah yang sama.

Nasihat yang sering ia berikan kepada putrinya kini menjadi pegangan bagi generasi penerusnya: “Jangan lupa untuk selalu mengelola hati, fokuslah pada apa yang menjadi pekerjaanmu, hingga dari situ aman dan nyamanlah yang kamu dapatkan.”

Bagi Pak Hamzah, ini adalah hadiah pensiun terindah. Warisan sejatinya bukan hanya ilmu yang diajarkan, tetapi juga nilai-nilai pengabdian yang kini hidup kembali dalam diri putrinya.

Di bawah langit Ruteng yang dingin, Bapak Hamzah Lampung tersenyum bangga. Di Hari Guru Nasional ini, ia merayakan bukan hanya akhir dari sebuah pengabdian, tetapi awal dari keabadian sebuah warisan ilmu dan keteladanan, yang akan terus bersinar di Kota Seribu Gereja.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel