Pak Hamzah tersenyum teduh. “Ini Hari Guru, Nak. Bapak harus datang, apalagi ini undangan langsung dari sekolah,” jawabnya dengan semangat sambil membenarkan kerah bajunya.
Jejak pengalamannya dalam menempuh apa yang ingin dicapainya sungguh berliku. Berawal dari menjadi penyuluh agama, ia harus bersabar dengan gaji yang tak tetap, yang bahkan hanya diterima setahun sekali. Bagi sebagian orang mungkin itu hal yang mudah dilalui tanpa kendala, namun hanya dirinya yang mampu menakar setiap kesulitan dan pengorbanan yang harus ia lakukan untuk menghidupi keluarga dan terus mengabdi pada ilmu.

Kesabaran Pak Hamzah mulai berbuah. Perlahan namun pasti, ia menaiki tangga. Dari penyuluh, ia menjadi pegawai di Departemen Agama (sekarang Kemenag) kala itu, hingga akhirnya ditetapkan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mimpinya yang dulu ia pupuk melalui Pendidikan Guru Agama (PGA) selama 3 tahun di Kota Bima, kini mulai terwujud.

Delapan tahun berjalan sebagai PNS di kantor Departemen Agama Kabupaten Manggarai, takdir membawanya pada panggilan hati yang sesungguhnya. Ia dimutasi ke Madrasah pertama yang ada di Kota Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai: MIS Amanah Ruteng. Pijakannya telah sampai. Sejak tahun 2001, di sanalah ia berlabuh dan mengabdikan diri sepenuhnya.
Tahun Amanah di MIS Amanah
Dua puluh tahun bukan waktu singkat. Selama itu, Bapak Hamzah menjadi simbol kesederhanaan dan keteladanan. Dengan setia, ia mengajarkan Fiqih dan Al-Qur’an Hadits. Mata pelajaran yang diampunya bukan sekadar hafalan, melainkan fondasi kehidupan beragama dan berakhlak mulia.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












