Tetapi, selain itu gereja hanya membangun dalam konteks spiritualitas ekologis, kerohanian ekologis bahwa dialog dengan alam itu penting.
Komitmen utuh atau sekedar Cuap-Cuap
Menyimak pernyataan dan penjelasan Pater Feliks Baghi bahwa orang katolik yang menerima Geothermal (termasuk pertambangan yang merusak Alam sebagai ibu bumi) adalah orang katolik yang gagal, yang kurang beriman merupakan suatu penyataan yang berlebihan. Pernyataan yang tidak sesuai konteks dengan era kekinian, bukan hanya bagi umat atu orang Katolik tapi juga bagi gerja itu sendiri.
Bisa jadi, apa yang disampaikan Gereja terutama yang disampaikan Feliks bagi hanya sebagai cuap-cuap belaka, cuap yang punya embel-embel. Sebab, faktanya, gereja sendiri termasuk para imamnya menikmati atau memanfaatkan hasil-hasil pertambangan yang tidak green, termasuk menikmati geothermal. Bahkan, teman seordo Feliks Baghi menjadi pelaku atau pebisnis hasil pemboran alam.
Mari kita lihat bangunan gereja yang megah di daratan Flores sementara bangunan atau rumah-rumah umatnya banyak yang masih sangat sederhana. Gedung-gedung berlantai milik kelompok Gereja itu pasti membutuhkan atau menggunakan beton, rangka baja, semen dan sebagainya yang merupakan produk ibu bumi yang diperkosa tadi.
Begitupun pada perlengkapan liturgi dalam gereja Katolik, Piala. Piala dalam liturgi Gereja Katolik adalah cawan yang digunakan untuk tempat anggur yang dikonsekrasikan. Setelah dikonsekrasikan, piala menjadi tempat untuk Darah Mahasuci Kristus.
Fungsi piala dalam liturgi gereja katolik melambangkan cawan yang digunakan Tuhan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






