Orasi Warga Poco Leok Hina Bupati dan Masyarakat Manggarai, Ngaku Diperintah Simon

Wihelmus Jehau, orator aksi tolak Geothermal sebut Hery Nabit dan keluarga sampah

Sebut Hery Nabit Sampah

Selain Tedy Sukardin, orator lain yang menyatakan aspirasinya adalah Wihelmus Jehau, warga asal Mucu – Poco Leok yang juga mengaku sebagai masyarakat adat. 

Dalam orasinya, Wihelmus mengaku anak-anak Poco Leok semua bisa sekolah bukan karena Geothermal, tapi karena hasil bumi di Poco Leok dari kegiatan bertani.

Menurut Wihelmus, kehadiran Geothermal yang didukung Hery Nabit dengan penerbitan SK Penlok itu telah menimbulkan bebagai gejolak di Poco Leok. Karenanya, bagi Wihelmus Hery Nabit adalah sampah.

Tak hanya kepada Hery Nabit, caci maki kelompok Pendemo ini juga menyasar kepada masyarakat Manggarai pendukung Geothermal, terutama bagi keluarga besar Hery Nabit, keluarga besar Todo – Pongkor dengan label Sampah.

Terkait label sampah ini, media ini berusaha mengkonfirmasi orator Wihelmus sesaat seusai aksi ketika ia hendak masuk ke mobil kayu (Oto Kol). Ia mengaku hal itu berdasarkan arahan seseorang yang ia sebut Simon.

“Simon, dari Pater Simon.” Ujarnya terbata-bata sembari membenarkan posisi duduknya di dalam mobil.

Hal itu juga didukung beberapa orang di dalam mobil kayu. Mereka mengatakan, “ite atau jera lata kami, manga atau toing ami. [Kami disuruh orang, ada yang mengarahkan/mengajarkan kami].” Seru mereka terbata-bata di dalam mobil, sementara di luar mobil situasi sudah panas karena keluarga Todo Pongkor di Ruteng yang marah dan tersinggung dianggap sampah sudah berada di lokasi.

Sayangnya, Wihelmus enggan menjawab ketika dikonfirmasi lebih lanjut apakah Pater Simon yang dimaksud adalah Simon Suban Tukan dari JPIC SVD.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel