Lebih lanjut, kata Frangky, rintihan dan keluh kesah para medis, orang sakit serta para ibu hamil untuk segera memperoleh pertolongan di Rumah Sakit-Rumah Sakit besar menjadi sulit untuk terwujud mengingat rawan, rentan dan berbahayanya jalur ini saat dilintasi oleh kendaraan.
Pilihan Berisiko
Di sini, keinginan untuk mengakses jalan menuju rumah sakit, serta akses terhadap rumah sakit merupakan pilihan berisiko. Serta, pertaruhan antara hidup dan mati. “Karenanya, kegiatan ini tidak untuk kepentingan politik jangka pendek atau selanjutnya tetapi semata-mata gerakan empati dan solusi darurat,” tuturnya.
Peserta yang lain, Donatur Abur (48), pun membeberkan keluh kesahnya terkait jalan rusak. Menurutnya, titik jalan Sano sangat kurang mendapat perhatian dari pihak pemangku kepentingan. Entah pemerintah ataupun DPR sebagai penyalur aspirasi. Bagi Don, kerugian yang ia alami selama ini saat mengakses jalur ini adalah kerusakan kendaraan berupa patah as. Dan tentu saja berdampak buruk pada pemenuhan kebutuhan perekonomian. Sejauh ini, tuturnya, dia sudah komunikasi secara pribadi dengan pemangku kebijakan via media sosial. Meskipun, kata Donatus, belum memperoleh respon yang pasti tentang perbaikan. Karenanya terdahap komunitas Kompresjalur yang telah memprakarsai kegiatan ini dia berharap agar bakti sosial seperti ini tidak hanya untuk jalur Sano saja. Melainkan terus terjadi di jalan umum lain yang darurat kerusakan. Juga terhadap secara pribadi, dia pun beriktiar untuk terus menyalurkan keluh kesahnya ini kepada pemerintah maupun DPR. Khususnya dari Dapil dua.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan