Ia mendorong penghidupan kembali musyawarah adat lonto leok sebagai ruang dialog setara, serta pengakuan terhadap peran denang sebagai pengelola tanah adat yang bukan sekadar aset ekonomi, melainkan simbol identitas dan warisan leluhur.
Ia juga mengkritik orientasi pembangunan yang hanya mengejar keuntungan materi, dan menegaskan pentingnya kapital sosial, budaya, dan simbolik. Sebagai inti refleksinya, ia menekankan konsep hambor yang merupakan harmoni sebagai arah utama pembangunan di Manggarai.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











