Mengurai Dialektika Geotermal, FP2P Manggarai Gelar Dialog Bertajuk Peluang dan Tantangan Energi Panas Bumi

Wakil Rektor III Unika Ruteng, Romo Fransiskus Sawan, menegaskan pentingnya dialog terbuka sebagai ruang mendengar, bukan bertentangan. Meski Gereja menolak geothermal, forum ini bertujuan memahami alasan penolakan dan mencari solusi pembangunan yang menghormati manusia dan alam.

Menurutnya, perbedaan pandangan bukan kontradiksi, melainkan dinamika kreatif yang jika dikelola dengan baik bisa menghasilkan solusi bersama.

“Kita diajak untuk melihat konflik sebagai peluang lahirnya kebijakan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam materinya secara daring, Gubernur NTT Melki Laka Lena menekankan pentingnya membedakan antara kegiatan tambang dan pemanfaatan energi panas bumi (geothermal).

Ia menjelaskan bahwa panas bumi bukan tambang karena menggunakan pengeboran untuk memanfaatkan sumber energi alam yang terbarukan, berbeda dengan tambang yang bersifat eksploitatif.

Gubernur Melki memaparkan potensi energi terbarukan di NTT yang sangat besar, yakni tenaga surya sebesar 60.000 MW, angin 10.108 MW, bioenergi 26.000 MW, hidro 369 MW, dan panas bumi 1.969 MW. Potensi ini menjadi modal penting bagi pembangunan NTT yang maju, sehat, berkelanjutan, dan mandiri energi.

Sebagai contoh konkret pemanfaatan energi panas bumi, Gubernur NTT menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu yang memiliki kapasitas 10 MW dan telah mampu menerangi sekitar 30.000 rumah di wilayah Manggarai. Hal ini menunjukkan bahwa energi panas bumi bukan sekadar wacana, tetapi solusi nyata bagi kebutuhan listrik di daerah.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel