Mengurai Dialektika Geotermal, FP2P Manggarai Gelar Dialog Bertajuk Peluang dan Tantangan Energi Panas Bumi

Selain aspek teknis, Gubernur juga menekankan pentingnya pendekatan sosial dalam pelaksanaan proyek. Pemerintah, menurutnya, membuka ruang dialog agar masyarakat merasa aman, dihargai, dan turut merasakan manfaat dari kehadiran proyek.

Setiap masukan dan keluhan dari masyarakat menjadi bagian penting yang akan ditindaklanjuti secara serius.

Di bidang pendidikan, Gubernur NTT menegaskan komitmen pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul dengan keahlian vokasi di sektor energi terbarukan.

Untuk itu, Pemprov NTT telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama seperti UGM, ITB, UI, Undana, Uniflor, dan Unifa.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak hanya berkontribusi pada ketersediaan listrik, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan generasi muda NTT dalam dunia energi bersih.

“Kami bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi seperti UGM, ITB, UI, Undana, Uniflor, dan Unifa. Panas bumi bukan sekadar listrik, tapi masa depan generasi muda,” pungkasnya.

Selain Gubernur Melki, Bupati Manggarai Herybertus G.L. Nabit menilai isu geothermal di Poco Leok sebagai persoalan yang belum pernah dihadapi sebelumnya, dengan tafsir dan pandangan yang mulai beragam.

Ia menekankan pentingnya mediasi sebagai jalan damai, sembari menyambut peran Komnas HAM sebagai bagian dari proses evaluasi bersama.

Bupati juga menyoroti dinamika adat yang kian rumit, seperti sengketa status tanah ulayat yang dahulu dianggap milik pribadi namun kini dipersoalkan kembali.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel