Dari apa yang dialami dan yang dikaji dalam perbagai ragam tinjauan, agama selalu tampak di simpang jalan. Hidup yang akan datang diwartakan dalam agama. Tetapi agama tetaplah berpijak di atas bumi yang fana. Bumi berteriak karena ketidakadilan, kemiskinan, kekerasan, ketidakpastian nasib, dan sekian banyak ketimpangan dalam kehidupan, tetapi agama dihardik untuk bungkam. Atau sebaliknya agama dicemooh karena diam, dan terlalu sibuk dengan kerohanian devosional dan liturgis. Agama dikecam tak membumi. Yang hanya terpola dalam narasi-narasi kesalehan mengambang bagai awan gemawan.
Sebab, agama mesti semata-mata sibuk dengan persoalan akhirat. Atau surga atau kah sebaliknya neraka. Titik! Dalam Yesus, yang diimani sebagai Tuhan dan Guru, para murid sejak semula dituntun untuk mengenal Allah sebagai Bapa, Sumber Kasih Sejati. Allah Bapa mesti dikenal dalam kehendak dan penyelenggaraanNya yang membebaskan dan menyelamatkan.
Agama: Aku begini, Engkau begitu…..
Bila susuri kisah Alkitab, tak sedikitlah kisah ketika para murid mesti ‘dipaksa’ Yesus untuk mengenal ‘jalan-jalan Allah’ yang tak begitu saja mudah dimengerti. Pengajaran Yesus tak mudah ditangkap dan malah dianggap keras. Dan “mulai saat itu banyak murid mengundurkan diri” (Yoh 6:66). Orang yang kaya itu segera tinggalkan Yesus, sebab sulit baginya untuk ‘berpisah dari banyaknya hartanya’ (Mrk 10:22). Jalan derita, pemberian diri dalam pengorbanan coba dicegah oleh Petrus. Dan Petrus akhirnya harus dihardik Yesus sebagai iblis batu sandungan yang berpikir tentang apa yang dipikirkan manusia dan bukannya apa yang dipikirkan Allah (Mat 16:23).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





