Fenomena live TikTok dengan gift pada akhirnya bukan hanya persoalan hiburan digital, tetapi juga cerminan kondisi psikologis masyarakat modern yang semakin haus akan pengakuan. Kita hidup di masa ketika banyak orang ingin dilihat, tetapi tidak semua benar-benar merasa dihargai. Ketika perhatian publik dijadikan sumber utama harga diri, maka manusia berisiko kehilangan batas antara aktualisasi diri dan eksploitasi diri.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berinteraksi dan berkembang secara sehat, bukan ruang yang mendorong seseorang mempertaruhkan kesehatan fisik maupun mental demi mempertahankan eksistensi digitalnya.
Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kesadaran psikologis agar manusia tetap mampu mengenali nilai dirinya tanpa harus terus-menerus bergantung pada validasi dari layar media sosial.
★Dosen dan Praktisi di Fakultas Psikologi UST, Owner Harmonia Psychocare
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







