Dalam kondisi seperti ini, individu dapat terdorong melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak nyaman atau berisiko demi mempertahankan atensi. Fenomena tersebut juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memaknai hiburan.
Ruang digital kini cenderung memberi penghargaan lebih besar pada sesuatu yang sensasional dibanding sesuatu yang sehat atau bermakna. Algoritma media sosial secara tidak langsung memperkuat perilaku ekstrem karena konten semacam itu menghasilkan interaksi tinggi. Semakin kontroversial sebuah tayangan, semakin besar peluangnya untuk muncul dan ditonton lebih banyak orang.
Di sisi lain, perilaku penonton juga patut menjadi refleksi bersama. Banyak orang dengan mudah meminta kreator melakukan tindakan ekstrem karena merasa berada dalam ruang anonim yang bebas konsekuensi sosial.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini berkaitan dengan menurunnya sensitivitas empati ketika seseorang berada dalam kerumunan digital. Penonton tidak melihat secara langsung dampak fisik maupun psikologis yang dialami kreator. Akibatnya, tindakan yang sebenarnya berbahaya dapat dianggap sekadar hiburan.
Persoalan ini menjadi semakin serius ketika perilaku ekstrem mulai dinormalisasi dan dikonsumsi oleh remaja maupun anak muda. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang secara terus-menerus menunjukkan bahwa perhatian publik bisa diperoleh melalui sensasi, tindakan impulsif, atau pengorbanan diri. Jika tidak disertai literasi digital dan kematangan psikologis, media sosial dapat membentuk pola pikir bahwa nilai seseorang ditentukan oleh seberapa viral dirinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







