Opini  

Literasi di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Muda

Bagi sebagian siswa, telepon genggam sering kali lebih banyak digunakan untuk bermain game daring daripada untuk mendukung proses belajar. Jika penggunaan tersebut tidak dikendalikan, waktu belajar akan berkurang dan konsentrasi terhadap kegiatan akademik dapat menurun. Akibatnya, siswa menjadi kurang tertarik untuk membaca dan mengembangkan kemampuan literasinya.

Namun demikian, menyalahkan teknologi sepenuhnya bukanlah solusi yang tepat. Teknologi pada dasarnya merupakan alat yang dapat memberikan manfaat atau dampak negatif, tergantung pada cara penggunanya memanfaatkannya. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan bukan menjauhi teknologi, melainkan menggunakan teknologi secara bijaksana dan produktif.

Teknologi sebagai Pendukung Literasi

Di balik berbagai tantangan yang ditimbulkannya, telepon genggam juga memiliki banyak manfaat dalam mendukung kegiatan belajar dan meningkatkan literasi. Dengan adanya internet, siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber secara cepat dan mudah. Materi pelajaran, artikel ilmiah, buku digital, hingga video edukatif dapat diakses hanya melalui satu perangkat.

Selain itu, berbagai aplikasi pembelajaran kini hadir untuk membantu siswa memahami materi secara lebih menarik dan interaktif. Kehadiran e-book juga memungkinkan siswa membaca berbagai buku tanpa harus membeli versi cetaknya. Teknologi bahkan mempermudah komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam mendukung proses pendidikan.

Karena itu, penggunaan teknologi perlu diarahkan pada kegiatan yang bermanfaat. Jika dimanfaatkan dengan baik, telepon genggam tidak akan menjadi penghambat literasi, tetapi justru menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mengolah informasi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel