Kurikulum Rasa, Bukan Hanya Skor

Namun, sebagaimana semua cita-cita, yang ideal seringkali terganjal yang praktis.
Banyak guru masih bingung menyesuaikan.

Banyak sekolah belum memiliki sumber daya untuk menerapkan pembelajaran kontekstual.

Ada pula kekhawatiran diam-diam: jika semua terlalu lentur, bagaimana mengukurnya?

Tapi mungkin, memang tak semua hal harus diukur. Mungkin yang kita perlukan bukan hanya instrumen baru, tapi keberanian baru.
Untuk percaya bahwa pendidikan bukan pabrik nilai, tapi ruang bertumbuhnya manusia.

Saya teringat seorang guru di Flores yang berkata, “Saya ajarkan anak-anak tentang hujan, bukan hanya dari buku IPA. Tapi dengan mendengar suara genteng, mencium bau tanah basah, dan menulis puisi tentang mendung.” Itu pelajaran yang tidak akan muncul dalam soal pilihan ganda.

Tapi justru di situlah pendidikan menemukan maknanya: ketika pelajaran tidak hanya masuk otak, tapi menyentuh hati.

“Kata bukanlah benda mati. Ia hidup, jika menyentuh rasa.”

Mungkin kurikulum juga begitu. Ia bukan hanya seperangkat silabus, tapi semacam peta rasa.
Ia harus mengajak guru menyentuh nurani, dan murid menemukan dirinya—di luar angka.

Karena itu, kurikulum baru ini tak hanya mengubah isi pelajaran.
Ia sedang—dalam senyap—menguji sesuatu yang lebih dalam:
Apakah kita masih percaya bahwa pendidikan adalah soal rasa, bukan hanya skor?

Jika jawabannya ya,
maka pelan-pelan, kita bisa berhenti membentuk anak-anak menjadi nilai.
Dan mulai membentuk mereka menjadi manusia.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel