Kisah Sedih nan Ceriah di Kota Filipi

Bagaimana pun, dalam keadaan serba derita penuh tantangan, dalam situasi penjara amat tak bersahabat toh doa dan puji-pujian tetap dilantunkan. Suasana penjara malam itu sepertinya terenung sebagai antitesis suasana malam di Taman Getsemani. Di Getsemani, saat teduh untuk berjaga dalam doa berubah jadi kesempatan untuk tidur. Sebaliknya, Paulus dan Silas, dalam keletihan dan derita di penjara, justru bertahan dalam berjaga bersama Tuhan.

Tetapi di atas semuanya, kisah Paulus dan Silas di penjara pada titiknyamenggapai klimaksnya. Tak hanya ada gempa kosmik yang nyata terjadi. Tetapi terjadi pula goncangan gempa bumi batin personal yang dialami Kepala Penjara itu. Niat suram untuk akhiri hidup sendiri mesti ditenangkan dalam dapatkan ‘arti hidup yang baru.’

Wawasan iman mulai tersingkap dalam dialog penuh makna. Di luar penjara, saat mengantar Paulus dan Silas, si Kepala Penjara itu bersuara, “Tuan-tuan, apakah yang harus perbuat supaya aku selamat?” (Kis 16:30). Dan di saat itulah jalan kepada Yesus, Tuhan, perlahan teretas, “Percayalah kepada Yesus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis 16: 31).

Renungkanlah! Kepala Penjara yang semula jadi ‘penguasa besar semua tahanan’ di penjara, justru pada saatnya ia berbalik menjadi ‘tawanan iman dan kasih di dalam Tuhan.’ Kisah dalam perikop ini berakhir gemilang dan ceriah. Saat Paulus dan Silas ada di rumah Kepala Penjara , terlukis, “Ia sangat bergembira, dan bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah” (Kis 16:34).

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel