(sekadar merenung kisah Paulus dan Silas)
“Mintalah BERKAT bagi orang yang mengutuk kamu; BERDOLAH bagi orang yang mencaci kamu…”
(Sabda Yesus, Lukas 6:28)
P. Kons Beo, SVD
(Mari susuri Kisah Para Rasul 16:22-34)


Entahlah, hukum penderaan yang dialami Paulus dan Silas itu seturut tatacara Yahudi atau kah seturut gaya Romawi? Jika dalam cara Yahudi, tercatat ‘empat puluh pukulan kurang satu. Tetapi jika harus ikuti ‘protokol hukum Romawi,’ itu katanya ‘tergantung dari kata-kata hakim, yang sering teramat kejam dalam menyasar bagian tubuh tak tertutup.
Sekian berat kah dosa dan kesalahan Paulus dan Silas? Sesuatu yang terasa asing yang mereka maklumkan pasti mengganggu. Yang diajarkan Paulus dan Silas sungguh bertentangan dengan adat istiadat dan kebiasaan orang-orang Filipi. Dan adu pendapat jadi tak terelakan. Perlahan, keributan massal pun jadi tak terbendung. Lalu?
Jalan keluar yang ditetapkan pembesar-pembesar kota (pemerintah) Filipi ada di jalur kekerasan. Pakaian Paulus dan Silas dikoyakkan. Dan hukuman penderaan pun jadi tak terhindar. Mungkin kah para pembesar ini (pemerintah) hanya ingin ‘mengambil cara aman’ demi menyenangkan orang banyak? Dan dengan itu mereka tetap dapatkan pengakuan publik sebagai ‘pejabat kota Filipi?’ Artinya…..
Dari pada ‘repot-repot’ tenangkan warga kota, dan harus berjuang untuk tiba pada duduk persoalan, para pejabat kota itu lebih memilih untuk lanjutkan hukuman terhadap Paulus dan Silas. Dan selanjutnya? Alam dan suasana penjara pun menanti Paulus dan Silas.
Paulus dan Silas ditempatkan di ruang tengah penjara. Maksudnya jelas, agar keduanya dikepung dengan mudah dari pantauan dari semua yang ada dalam penjara. Kaki dibiarkan terjulur dirantai dengan posisi ‘sulit tidur terentang.’ Sebab punggung pun sudah jadi memar akibat penderaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






