Ketika Perpustakaan Sekolah Berubah Menjadi Gudang Kurikulum

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Kita punya kebiasaan memproduksi slogan untuk menutupi kenyataan. Salah satunya adalah ungkapan bahwa perpustakaan merupakan jantung sekolah. Kalimat itu terdengar indah. Problemnya, jantung itu sering kali sudah lama berhenti berdetak.

Masuklah ke banyak perpustakaan sekolah. Kita akan menemukan rak yang penuh. Namun, kepenuhan itu menyimpan ironi. Buku paket pelajaran berjejer rapi. Kumpulan soal tersedia lengkap. Modul pembelajaran memenuhi sudut ruangan.

Secara administratif, perpustakaan tampak hidup. Secara intelektual, ia justru sekarat.

Lalu, siswa mau membaca apa?

Mengapa Minat Baca Siswa Rendah?

Kita terlalu cepat menyalahkan generasi muda karena dianggap tidak memiliki minat baca. Kita mengutip berbagai survei literasi dan menggelar seminar tentang pentingnya membaca.

Namun, kita lupa mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar yaitu apakah sekolah menyediakan bacaan yang membuat siswa ingin membaca?

Kita tidak bisa memerintahkan rasa cinta.

Membaca tidak tumbuh dari instruksi. Ia lahir dari rasa penasaran. Orang membaca karena ingin menemukan sesuatu yang belum diketahuinya. Ada kegembiraan dalam proses itu. Ada petualangan intelektual di dalamnya.

Ketika buku selalu identik dengan tugas, ujian, dan kewajiban akademik, membaca berubah menjadi aktivitas mekanis. Anak-anak tidak lagi berjumpa dengan ide. Mereka hanya berjumpa dengan target.

Ketika Perpustakaan Hanya Berisi Buku Paket

Kita ingin peserta didik berpikir kritis, tetapi yang kita sediakan adalah bahan bacaan yang menuntut kepatuhan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel