Dalam perjuangan akan nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan kehidupan, siapapun sesama tak pernah boleh dicegat dan disingkirkan. Dalam Yesus, ditegaskan Allah mahakuasa, mahaagung dan mahabesar, yang tidak boleh dikerdilkan oleh isi pikiran dan tindakan manusia (penganutNya) yang sempit, kerdil dan picik. Apa yang disebut ‘nafsu kemurnian’ dalam penghayatan religius yang suram selalu lah disempitkan pada ‘hanya kita saja. Dan semua yang bukan kita, haruslah disingkirkan…’
Ingatlah kita selalu akan kata-kata Tuhan, “Jangan kamu cegat dia! Sebab tidak ada seorang pun yang telah mengadakan mukjizat dalam namaKu, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” (Mrk 9:39).
Kedua, Dari pada ‘sibuk dengan orang (lain) yang berbuat baik, Yesus malah menuntut para murid dan pedengarNya untuk bermawas diri. Demi menata sikap, perilaku dan tindakan sendiri. Ungkapan: lempar ke dalam laut, penggal tangan dan kaki, cungkillah mata’ isyaratkan betapa kita mesti ‘mengatur dan tertibkan diri sendiri’ ketimbang harus ‘mengamat-amati dan mencegat orang lain, yang bukan kita’ yang ternyata ‘sanggup berbuat baik.’
Memang, terasa gampanglah untuk mengamat-amati dan mencegat orang lain. Untuk selalu berprasangka buruk bahwa orang lain juga ‘dipanggil untuk berbuat baik dan berpihak pada nilai.’ Tetapi, rasanya terlalu sulit untuk menata ‘tangan, kaki serta mata’ kita sendiri demi alam kebaikan bersama.
Ketiga, betapa ingat dirinya kaum berpunya, orang-orang kaya itu, seperti yang dilukiskan dalam Surat Yakobus. Miliki segala yang indah gemerlapan serta segalanya, tak sanggup membawa mereka kepada ‘rasa syukur penuh sukacita.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





