Jangan Salahkan Batu

Batu
Konstruksi Bangunan Tahan Gempa tanpa batu-bata milik Eman Lalu, Warga Wae Reget kelurahan Bangka Leda.

Secara sains, Raum Mbaru merefleksikan prinsip fondasi, kohesi, dan komposit material. Secara budaya, tradisi ini memuat filosofi persatuan dalam keberagaman demi menciptakan kekuatan.

Bukan Soal Rumah Kayu Atau Rumah Batu

Pada akhirnya, ini bukan persoalan memilih rumah kayu atau rumah batu. Ini adalah tentang bagaimana kita belajar dari kayu dan batu untuk saling menyatu dalam keragaman agar menjadi kokoh.

Kayu itu keras, pasir itu lembut, batu itu berat, besi itu kaku, paku itu kecil, seng itu tipis, dan tanah adalah alasnya. Semuanya berbeda. Namun, ketika seluruh elemen tersebut saling bertemu dan menyatu (Raum), terciptalah sebuah bangunan (Mbaru) yang kokoh.

Demikian pula dengan kehidupan kita di Manggarai. Kita mungkin berbeda pendapat mengenai rumah kayu atau rumah batu, serta memiliki pengalaman trauma gempa yang tidak sama. Namun, jika kita mau Raum—mau saling bertemu dan menyatu di atas perbedaan tersebut—kita akan berdiri kokoh seperti Rumah Hijau di Nuwakot maupun rumah tahan gempa di Labuan Bajo.

Rumah yang tidak Raum akan retak; manusia yang tidak Raum akan rapuh.

Jangan salahkan batu. Jangan dewakan kayu. Semuanya berasal dari alam.

Gempa tidak serta-merta meruntuhkan; yang meruntuhkan adalah ketika kita enggan bersatu dalam keragaman untuk membangun konstruksi yang bermutu.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel