Jangan Salahkan Batu

Batu
Konstruksi Bangunan Tahan Gempa tanpa batu-bata milik Eman Lalu, Warga Wae Reget kelurahan Bangka Leda.

Selain itu, setiap material memiliki kesesuaian dengan habitat alamnya. Kayu dari daerah panas atau pasir laut, misalnya, tidak bisa asal dicampur dengan pasir darat untuk membangun rumah. Jika dipaksakan, bangunan bisa ambles. Standar konstruksi menegaskan, “Pasir laut sebaiknya tidak digunakan karena kadar garamnya dapat mengakibatkan korosi pada struktur beton.”

Tanpa mengurangi contoh yang sudah ada, kita dapat melihat fenomena Rumah Hijo yang selamat dari bencana banjir sebagai ilustrasi kekuatan struktur terhadap getaran gempa. Rumah Hijo yang dimaksud adalah Rumah Hijau (Green House) yang sempat viral di Nuwakot, Provinsi Bagmati, Nepal. Pada peristiwa banjir bandang Nepal tahun 2026, bangunan di sekitarnya hancur, tetapi rumah hijau ini tetap berdiri kokoh. Rahasianya terletak pada mutu konstruksinya: “A reinforced concrete frame that spreads the force of the water into the ground” (rangka beton bertulang yang menyebarkan tekanan air ke dalam tanah).

Banjir, dalam hal ini, merupakan gambaran dari “gempa cair”.

2. Pendekatan Tradisi: Raum Mbaru

Menurut tradisi Manggarai, agar sebuah rumah baru dapat berdiri kokoh, perlu diadakan ritual adat Raum Mbaru.

Apa arti Raum Mbaru? Raum berarti saling bertemu dan menyatu di tengah perbedaan, sedangkan Mbaru berarti rumah. Jadi, Raum Mbaru secara harfiah bermakna rumah yang kokoh dan kuat karena terbentuk dari persatuan beragam material.

Raum Mbaru adalah tradisi menyatukan seluruh elemen material bangunan yang telah terpasang: batu, semen, pasir, besi, kayu, seng, paku, kawat, hingga tanah tempat rumah berdiri. Raum Mbaru itu sendiri merupakan manifestasi adat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel