Lenin telah melihat bahwa para penguasa kapital internasional ini sama sekali tidak berminat “menyebarkan modernisme” ke negeri-negeri terbelakang. Mereka hanya akan menanamkan modal jika pemerintah nasional di negeri terbelakang itu telah atau sedang menyediakan sarana untuk industri.
Jadi, bagi mereka, pemerintah nasional di negeri terbelakang hanyalah kaki-tangan untuk mempersiapkan panggung bagi drama tragedi yang akan mereka mainkan.
Satu hal lagi yang dilihat oleh Lenin (walaupun tidak secara eksplisit dinyatakannya) adalah bahwa ekspor kapital itu sendiri seringkali terjadi, atau dimungkinkan, oleh adanya penyediaan sarana dan prasarana industri itu sendiri. Dengan kata lain, bidang-bidang ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak justru diserahkan pada penguasa kapital asing agar dapat berkembang. Pemerintahan borjuis nasional tidak memiliki cukup kekuatan ekonomi atau kekuatan politik untuk menahan masuknya kapital asing dalam bidang-bidang perikehidupan umum ini.
Dalam bukunya, Lenin mengutip pernyataan konsul Austro-Hungaria di Sao Paulo yang menyatakan bahwa pembangunan jalur kereta api di Brasil sebagian besar dikerjakan oleh kapital Perancis, Belgia, Inggris dan Jerman. Jika demikian, setidaknya, kapital internasional itu masih memberi sumbangan bagi peningkatan kekuatan produktif nasional, sekalipun peningkatan itu juga berarti peningkatan dalam tingkat penghisapan.
Namun, di jaman modern ini, sebuah pemerintah nasional yang sebenarnya mampu menyediakan sendiri sarana perikehidupan umum itu
kemudian menyerahkan bidang usaha itu pada kapital internasional, semata-mata karena tekanan baik politik maupun suap.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

