Persoalan ini nampak nyata dalam perdebatannya melawan Karl Kautsky, pemimpin utama dari kaum sosial-demokrasi Jerman pada masa itu mengenai hakikat dari Perang Dunia I. Menurut Lenin, kesalahan utama Kautsky dalam memandang imperialisme terletak pada pendapatnya yang “menolak menganggap imperialisme sebagai sebuah “tahapan kapitalisme” dan merumuskannya sebagai sebuah kebijakan yang ‘lebih disukai’ oleh pemodal keuangan, sebuah kecenderungan dari negeri-negeri “industri” untuk menjajah negeri-negeri ‘agraris’.”
Jadi, menurut Lenin, pemisahan politik imperialis dari ekonomi imperialis akan membawa kita ke dalam oportunisme. Dan bentuk yang paling banyak oportunisme kiri ini ambil adalah chauvinisme-sosial, yakni pembelaan membabi-buta atas kapital domestik yang sedang bertempur dengan kapital internasional. Kita akan kembali pada tema ini di bagian belakang. Dengan demikian, untuk dapat memahami politik imperialis, kita harus terlebih dahulu memahami proses ekonomi imperialis. Kita akan mencoba melakukan hal tersebut dalam bagian berikut ini.
Ciri-Ciri Pokok Imperialisme
Peleburan dan Kombinasi Kapital
Menurut Lenin, ciri pertama dan terpenting dari Imperialisme adalah “konsentrasi kekuatan produktif”. Bukan hanya pemusatan kekuatan produktif dalam satu cabang produksi, yakni perbesaran kapital yang dicurahkan dalam satu perusahaan atau pabrik, melainkan penggabungan beberapa cabang produksi yang dibutuhkan dalam pembuatan satu produk. Di zaman modern ini, bentuk yang pertama disebut lebih dikenal sebagai “monopoli”, “kartel” atau “sindikasi”. Sedang bentuk yang kedua adalah “konglomerasi”.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

