Pindah lokasi tidur dari dekat tungku api (toko ruid sapo) dan pindah tidur ke kamar keluarga inilah Cear Cumpe.
Selanjutnya adalah pemberian nama setelah bayi yang sekitar berusia 3 bulan. Acara pemberian nama pertama-tama untuk nama kampung (teing ngasang tu’u/ngasang beo). Pemberian nama ini sebelum ada pemberian nama baptis (tradisi Katolik)
Kalau anak laki-laki, maka nama yang diusulkan adalah nama marga ayah (patrilineal) atau leluhur pada marga ayah.
Tetapi kalau anak perempuan, beber Nggoro maka nama bisa juga pakai nama marga pada anak rona (keluarga asal mama) atau keluarga asal istri.
Pria asal Wakel, Rejeng, ini juga menjelaskan bahwa Cear Cumpe bermakna syukuran. Cear cumpe seperti ini khusus untuk syukuran keluarga besar yang memeroleh berkat berlimpah keturunan, berkat pekerjaan dan pendidikan.
Dalam ritual Cear Cumpe, memerlukan hewan yang disembelih, khusus untuk pemberian nama (teing ngasang) adalah manuk lalong bakok (jantan putih).
Sementara ‘tuk Cear Cumpe Syukuran, lanjut Dr. Adi, hewan yang sembelih oleh anak rona adalah manuk jantan berwarna merah (lalong cepang). Dan babi jantan putih (ela bakok) dan mbe kondo (kambing).
Moment Keluarga Besar Berkumpul
Keluarga yang hadir dalam acara tersebut yakni keluarga kerabat ayah (patrilineal), keluarga kerabat ibu (anak rona), keluarga saudari perempuan (Woe atau anak wina), dan tetangga kampung (keluarga kerabat pa’ang ngaung).
Momen kelahiran dan pemberian nama ini menjadi sangat bersejarah dalam kehidupan manusia dalam Tradisi Manggarai, juga kelahiran KHD yang kita peringati sebagai Hardiknas. Begitupun dalam lebaran, ada momen seluruh keluarga besar berkumpul tuk bermaaf-bermaafan saat Idulfiti terasa berbeda dengan maaf-maafan di luar Idulfitri.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan