infopertama.com – Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur setelah gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang kawasan utara Pulau Flores. Bencana mematikan berkedalaman 10 kilometer ini melumpuhkan pulau tersebut dan merenggut sedikitnya 47 korban jiwa, berdasarkan data sementara BNPBD per Minggu, 16 Agustus 2026.
Merespons krisis kemanusiaan ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto bertolak langsung ke lokasi untuk memimpin operasi tanggap darurat, memprioritaskan evakuasi warga yang tertimbun serta penanganan medis bagi puluhan korban luka berat dan ringan.
Sejumlah kawasan di daratan Flores kini berpacu dengan waktu dalam suasana duka. Maut menjemput puluhan warga yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, hingga Manggarai Barat akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat guncangan dahsyat terjadi.


Di tengah kepanikan dan ancaman tsunami, lebih dari 2.000 warga di Nagekeo dan wilayah pesisir terpaksa meninggalkan kediaman mereka untuk mengevakuasi diri ke tempat tinggi. Kecemasan masyarakat semakin meningkat seiring BMKG mencatat 731 gempa susulan dengan Magnitudo terbesar 6,2 SR dan terkecil 1,9 SR.
Proses penyelamatan korban tertahan oleh rusaknya akses sarana dan prasarana. Jalur darat di beberapa titik tertutup material longsor, sementara pemadaman listrik secara meluas akibat kerusakan gardu PLN mempergelap lokasi penanganan darurat.
Fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas di Maumere yang mengalami kerusakan fisik harus berjuang ekstra keras merawat puluhan korban luka di tengah keterbatasan. Meski begitu, area runway bandara dipastikan tetap aman dan difokuskan penuh untuk mendukung operasional penerbangan darurat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











