Suara padang gurun vs propaganda
Katanya, “Propaganda adalah teknik membekukan jiwa dengan cara membosankan, -dengan kotbah dan kampanye pengeras suara,- yang diulang-ulang jam demi jam.” Maksudnya, dengan rasa bosan itu, jadilah dasar yang baik untuk ‘cuci otak.’ Di muaranya, publik mesti mengalah. Jadi pasrah dan dibikin pasif. Nalar sehat telah dibuat ‘pingsan dalam sikap kritisnya.’
Kampanye adalah teknik menjemput massa dalam untaian janji manis penuh pikat. Jarang di situ ada berondongan kata-kata keras. Tak pernah ada hardikan penuh kritis dan berdaya profetik. Sebab hal seperti itu dianggap kontra-produktif dan ternilai ‘maen gila bodo’ dalam bingkai politik. Sebab riskan untuk kehilangan jumlah pemilih.
Dalam koalisi, semuanya bisa sekedar ‘terpaksa saja.’ Agar tak jadi yatim piatu atau sebatang kara yang terpaku menatap langit nusantara, atau jadi mati kutu sebagai penonton di peta perpolitikan Tanah Air. Suara di Padang Gurun itu, Yohanes Pembaptis, ‘tetap jaga jarak yang bermarwah.’ Ia tak bisa diperkoalisikan dengan elitis yang manipulatif yang rajin berzigzag demi kepentingannya sendiri.
Mari jemput pemimpin baru
Indonesia tengah berdinamika menjemput, -tidak hanya pemimpin baru-, tetapi terutama ‘demi cita-cita Indonesia yang lebih bermartabat dan bercitra.’ Itulah orientasi dan cita-cita mulia Sabang hingga Merauke. Maka dibutuhkan karakter pemimpin yang jauh dari alam dan kharakter ular beludak.
Karena itulah Indonesia tak hendak memilih pemimpin, yang dipagar mati dan tertahan hanya sebagai pemimpin! Tidak! Pemimpin dan cita-cita bangsa adalah dua sisi yang membentuk satu mata uang MARTABAT BANGSA dan NEGARA. Bukan soal hanya memilih pemimpin ‘asal pemimpin,’ tetapi bahwa ‘alam mesianik Indonesia yang lebih damai sejahtera’ yang sanggup diperjuangkan!
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






