infopertama.com – Cinta sering dipahami sebagai luapan rasa, padahal ia lebih tepat dimengerti sebagai disiplin batin. Ia bukan sekadar getaran yang menghangatkan dada, melainkan kemampuan untuk menata diri di hadapan luka.
Ketika seseorang berkata bahwa cinta adalah sejauh mana kita mampu menyimpan air mata, itu bukan glorifikasi penderitaan, melainkan pengakuan bahwa cinta menuntut pengendalian diri. Air mata yang disimpan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa seseorang memilih menjaga makna, alih-alih melampiaskan ego.
Dalam kerangka filosofis, cinta adalah tindakan etis. Ia selalu melibatkan yang lain. Maka cinta mengandaikan tanggung jawab. Emmanuel Levinas pernah menegaskan bahwa kehadiran “yang lain” memanggil kita pada tanggung jawab yang tak bisa ditunda. Cinta adalah jawaban atas panggilan itu. Ia menuntut kita keluar dari pusat diri sendiri. Di sinilah cinta menjadi perjuangan: perjuangan melawan kecenderungan ego untuk selalu ingin dimengerti, diakui, dan dibenarkan.
Perjuangan sendiri adalah proses verifikasi atas kata-kata. Kata-kata hidup dalam kemungkinan; perjuangan memindahkannya ke dalam realitas. Banyak orang fasih berbicara tentang kesetiaan, keadilan, atau pengorbanan, tetapi hanya sedikit yang bersedia membayar harga dari ucapannya. Perjuangan adalah ruang di mana retorika kehilangan perlindungannya. Ia telanjang. Ia menuntut konsistensi.
Adakah perjuangan yang mudah? Secara ontologis, perjuangan selalu mengandung resistensi. Jika tidak ada hambatan, maka yang terjadi hanyalah aktivitas, bukan perjuangan. Kesulitan bukan aksesori perjuangan, melainkan esensinya. Di dalam kesulitan itu manusia menemukan batas dirinya dan sekaligus kemungkinan untuk melampauinya.
Diremehkan, tidak dianggap, dicibir, atau tidak dipercaya adalah bentuk-bentuk penolakan sosial. Namun secara filosofis, pengalaman itu memiliki makna yang lebih dalam: ia menguji sumber motivasi kita. Jika perjuangan kita bergantung pada pengakuan, maka ketika pengakuan itu dicabut, kita runtuh. Tetapi jika perjuangan berakar pada nilai yang diyakini, maka cibiran justru memperjelas kedudukan kita.
Hegel berbicara tentang kebutuhan akan pengakuan sebagai bagian dari pembentukan diri. Namun ada tahap kedewasaan di mana manusia tidak lagi menggantungkan eksistensinya sepenuhnya pada pengakuan eksternal. Ia berdiri karena keyakinannya sendiri.
Perjuangan yang diremehkan adalah ujian martabat. Martabat tidak lahir dari tepuk tangan, melainkan dari kesetiaan pada nilai yang dipilih secara sadar. Dalam situasi tidak dipercaya, integritas menjadi taruhan. Integritas berarti kesatuan antara batin dan tindakan. Tanpa integritas, perjuangan berubah menjadi sandiwara; dengan integritas, bahkan kegagalan pun tetap bermakna.
Cinta dan perjuangan pada akhirnya bertemu dalam satu titik: keduanya menuntut ketahanan dalam sunyi. Cinta tanpa perjuangan akan rapuh; perjuangan tanpa cinta akan kering. Cinta memberi alasan mengapa kita bertahan, perjuangan memberi bentuk bagaimana kita bertahan.
Maka pertanyaan “adakah perjuangan yang mudah?” barangkali perlu diubah: bukan apakah ia mudah, melainkan apakah ia layak diperjuangkan. Sebab yang menentukan bukan ringannya beban, tetapi nilai dari tujuan itu sendiri. Dan, ketika seseorang tetap berjalan meski diremehkan dan tidak dipercaya, ia sedang menegaskan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberhasilan ia sedang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




