Maka kebahagiaan untuk seorang manusia sederhana ialah menjadi saudara yang merangkum sebanyak mungkin orang. Bahwa yang dimaksud keluarga bukanlah sebatas sanak famili dan koneksi, melainkan meluas ke sebanyak mungkin saudara-saudara sesama manusia.
Semua Ini Telah Ia Lakukan Hingga Akhir Hayatnya!
Akhirnya, apa yang tinggal? Bagi saya sebagai seorang beriman, dengan spirit sederhana dan diam dalam hidup, maka apa yang selalu diyakini adalah, “Tidak ada santo atau santa tanpa masa malu yang kelam. Dan tidak ada pendosa tanpa masa depan.”
Dengan kata lain, “Setiap orang kudus selalu memiliki masa silam yang gelap dan setiap pendosa selalu memiliki masa depan.”
Frase yang saya sebutkan ini, telah saya ubah sedikit. Aslinya adalah ucapan dari Oscar Wilde, novelis dan penyair Irlandia, yang berkata: “Every saint has a past, and every sinner has a future.”
Maka, dengan keyakinan yang sama dan dengan air mata terurai, kami melepasmu pergi, Mgr Hubertus Leteng. Tapi engkau tidak mati. Engkau abadi di hati kami. Untuk kasih-sayang-mu bagi tana dading Manggarai, saya mengucapkan: Terimakasih Berlimpah!
Begitu indahnya jalan hidup yang engkau tinggalkan, maka atas nama rakyat Kabupaten Manggarai, yang adalah saudara dan saudarimu, saya memohon doamu agar kami dikuatkan untuk membuktikan bahwa sesungguhnya sikap sederhana dan diam adalah jalan pemanusiaan menuju surga!
Bapa, saudara dan uskup kami Mgr Hubertus Leteng, Sampai Jumpa di Tanah Keabadian!
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







