Cepat, Lugas dan Berimbang

Bupati Hery Nabit: Diamnya Mgr Huber adalah Diamnya Bunda Maria

Kritik Kedua: Sederhana

Ini yang paling gambang dan kasat mata. Sederhana. Bukan hanya apa yang ia kenakan yang rapih tapi seluruh gesture, bahasa tubuhnya adalah kesederhanaan. Tidak wah! Tidak megah! Jauh dari kesan mewah.

Bahasa yang teratur, sopan santun, senyumnya, gaya bicara yang membuat partner bicara serasa duduk sama rendah berdiri sama tinggi, yang memperlakukan lawan bicara sebagai saudara dan seluruh bahasa tubuhnya, semua itu adalah kesederhanaan.

Mengapa ia begitu sederhana? Dia seorang doktor teologi, hampir seluruh hidupnya habiskan di lembaga pendidikan, yang berarti dia berwatak ilmiah. Tapi mengapa ia sederhana? Akhirnya saya paham dari motto tahbisan uskupnya: “Kamu semua adalah saudara.”

Memang begitulah. Menjadi saudara bagi sesama, lingkungan dan alam, membutuhkan sebuah kerendahan hati. Dan ini tampak pada Mgr Huber. Di awal-awal masa episkopalnya, dia giat menanam pohon dan menggalakkan pastoral ekologis, misa di Sirise, daerah pertambangan, dan sebagainya.

Maka bagi saya, komplitlah kesederhanaan Mgr Huber: lahiriah dan rohaniah! Dan inilah ideal kehidupan seorang beriman. Dalam kesederhaan, hidup manusia memang menjadi tua dan redup tapi mencintai dan berbagi adalah kewajiban pemanusiaan sepanjang-panjang perjalanannya.

Dalam kesederhanaan, yang terjadi ialah berpikirlah efisien. Janganlah menghabiskan tenaga dan waktu untuk kesementaran, melainkan untuk keabadian. Janganlah pula menumpahkan profesionalisme untuk menggapai uang, harta, rumah besar, nama besar dan sebagainya, yang toh tidak akan menyertaimu selama-lamanya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN