Akhirnya saya paham! Diam-nya Mgr Huber adalah diam-nya Bunda Maria. Menyimpan segala sesuatu di dalam hati, tanpa banyak bertanya-tanya dan berkata-kata, sambil membingkai segala peristiwa hidupnya dalam kehendak Allah, Voluntas Dei dan mengolah semua itu menjadi energi jiwa.

Bagi saya, diam-nya Mgr Hubert bukan karena dia tidak mau omong tetapi sebuah sikap dasar yang sengaja Ia pilih. Dan itulah yang terjadi dalam perjumpaan saya secara pribadi meski singkat dengannya. Diam-nya adalah mendengarkan dan menyimak. Bicaranya terukur dan perlu-perlu saja. Maka diam-nya ini membuat saya dan siapapun yang berkontak dengannya, selalu merasa at home dan akhrab.
Dengan diam-nya ini, akhirnya sedikit membantu saya memahami bagaimana dia mengelola beberapa kenyataan yang menurut kacamata saya sebagai orang awam, kontroversial.
Kehadirannya di Keuskupan Ruteng sebagai gembala agung mulai dengan sorak-sorai gegap gempita sukacita, lagu dan tari. Langit-langit congkasae ikut bermadah dari Wae Mokel sampai Selat Sape.
Tak lama sesudahnya, tepatnya lima tahun lalu, dia harus pergi dari sini, dalam sunyi, sendiri. Ke tanah asing yang hanya dia yang tahu. Gemuruh kata dan suara sumbang tanpa pernah ia tantang. Badai mengguncang tanpa pernah ia mengelak. Dia menerima dalam DIAM.
Akhirnya memang karena Diam-lah, semua itu diolahnya menjadi energi jiwa. Maka, semua kadar derita dan sakit yang ia alami dan takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Mgr Hubert bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang ia terima dalam rahasia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







