Cepat, Lugas dan Berimbang

BPJS dan Ilusi Efisiensi

Pasien yang seharusnya pulih cepat malah mengalami komplikasi, kembali ke rumah sakit, masuk ICU, atau bahkan kehilangan produktivitas akibat disabilitas.

Semua ini tidak pernah masuk dalam laporan “efisiensi”, tetapi nyata membebani keluarga, rumah sakit, dan ekonomi nasional.

Membela dokter, menjaga pasien

Kemarahan dokter pemegang pisau bukan soal honor semata. Ini soal hak pasien atas layanan yang layak.

Tarif yang terlalu rendah memaksa rumah sakit berhemat dengan cara berisiko. Alat diganti lebih murah, obat diturunkan kualitasnya, atau lama rawat dipersingkat. Akibatnya, pasien justru menanggung risiko komplikasi dan rawat ulang.

Dokter bedah berada di garda depan, setiap hari mengambil keputusan hidup mati di ruang operasi. Namun, mereka dipaksa bekerja dalam sistem yang membayar jasanya di bawah biaya wajar.

Pertanyaannya sederhana “bagaimana negara bisa menuntut mutu kelas dunia, jika tarif yang diberikan bahkan tidak cukup untuk menutup biaya dasar?”

WHO menekankan bahwa pembiayaan kesehatan bukan sekadar soal efisiensi anggaran, tetapi jaminan keamanan pasien dan keberlanjutan tenaga kesehatan.

Sistem yang terlalu menekan biaya akan kehilangan dua hal sekaligus, kepercayaan publik dan tenaga ahli. Jika rumah sakit kolaps dan dokter beralih profesi, maka pasien miskin yang paling dirugikan.

Karena itu, membela dokter sejatinya sama dengan membela pasien. Dokter yang dihargai layak akan bekerja dengan tenang. Rumah sakit yang sehat secara finansial akan menjaga mutu dan pasien akan memperoleh haknya atas pelayanan yang aman.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN