Cepat, Lugas dan Berimbang

BPJS dan Ilusi Efisiensi

Tarif layanan yang terlalu rendah tidak pernah benar-benar membuat negara hemat. Yang terjadi justru lahirnya biaya tersembunyi yang tidak tercatat dalam laporan klaim BPJS, tetapi dirasakan nyata di lapangan.

Dalam literatur ekonomi kesehatan, fenomena ini sudah lama dikenali. Pertama, terjadi cost shifting. Rumah sakit yang defisit karena klaim BPJS akan menutupinya dengan menaikkan tarif layanan non-BPJS atau menjual layanan tambahan di luar paket INA-CBG.

Bank Dunia mencatat, praktik ini lazim terjadi di negara dengan underfunded health insurance. Artinya, biaya yang tidak dibayar negara akhirnya tetap kembali ke masyarakat.

Kedua, muncul penurunan mutu atau quality erosion. WHO memperingatkan, ketika tarif tidak sesuai dengan biaya riil, rumah sakit terdorong menekan belanja dengan cara berisiko.

Obat diganti dengan generik murah dan lama rawat dipersingkat. Jangka pendek terlihat hemat, tapi jangka panjang menciptakan komplikasi, infeksi, atau kebutuhan operasi ulang.

Ketiga, tarif rendah menciptakan moral hazard. Dalam teori Fuchs, hal ini disebut supplier induced demand, penyedia layanan mencari cara menutup defisit biaya dengan menambah prosedur atau tindakan yang belum tentu diperlukan.

Bukan karena dokter ingin mempermainkan pasien, tapi karena sistem memaksa mereka bertahan.

Akhirnya, sistem jatuh dalam apa yang disebut WHO sebagai inefficiency trap. Di atas kertas, BPJS terlihat berhasil menekan biaya klaim. Namun di balik itu, negara justru menanggung biaya sosial yang lebih besar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN