Dan apakah hal seperti ini bisa diikuti oleh si Ahli Taurat dan kelompoknya? Yang perbuatan ‘baiknya’ selalu dipamer-pamer agar dilihat publik dan dengan itu sungguh harapkan pujian? Si Samaria tak perlu pujian.
Yakinlah bahwa kisah si ‘Samaria yang baik’ itu ingin bebaskan si ahli Taurat itu dari politisasi bantuan sosial-kemanusiaan terhadap sesama untuk tujuan yang berkiblat demi kepentingan diri dan kelompok sendiri. Yang diperlihatkan oleh si Samaria terhadap di derita ‘sungguhlah bantuan dari hati nurani dan cita rasa kemanusiaan.
Dan, di akhir perumpamaan itu, ada imperasi jelas dari Yesus buat si Ahli Taurat, Ahli Undang-Undang itu, “Pergilah dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Maksudnya, buatlah dalam ‘sunyi’ demi sesama yang menderita, berkekurangan dan berkebutuhan. Tak usalah seperti aksi ‘pamer-pamer atau sejenis kampanye dan selebrasi agar dapat kompensasi pujian publik.
Teringat lagi kata-kata Yesus buat murid-muridNya, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Tetapi kalian kalau kam memberi sedekah, berikanlah dengan diam-diam, sehingga tidak ada yang tahu..” (cf Mat 6:3-4).
Bagi si ahli Taurat, lebih dari sekedar menghafal Taurat atau Undang-Undang, ia sebenarnya dibina untuk satu animasi Revolusi Mental dalam melihat “Siapakah sesamaku yang sesungguhnya.” Melihat sesama sambil memberi bantuan dengan iklash. Tanpa harapan mati-matian dalam intensi bantuin ya..
Ada-ada saja Cak Lontong cs di Koalisi Tawa ini.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





