Biarkan saja untuk tak konsen pada ‘si Imam dan seorang Lewi’ yang sungguh apatis, cuek ‘malas tahu mati punya’ akan derita si korban di pinggir jalan itu. Toh bagi mereka berdua, “Apa untungnya memberi bantuan kemanusiaan?” Tak ada efek sosial (politik) sedikitpun. Tanpa beri bantuan juga tak ada pengaruhnya pada derajat sosial sebagai Kaum Imam dan sebagai seorang Lewi. Intinya berdua itu akhirnya melewatinya dari seberang jalan (cf Luk 10:31-32).
Tapi untuk si Samaria, yang berasal dari kalangan ‘biasa-biasa dan tak diperhitungkan dalam kepantasan struktur sosial, Yesus justru kisahkan sedeteilnya bagaimana ‘dinamika bantuan sosial kemanusiaan’ yang ditunjukannya bagi si korban perampokan, yang telah dibogem hingga setengah mati itu.
Si Samaria itu: turun dari keledai, dekati si korban, balut luka-lukanya, sirami dengan minyak dan anggur, naikan si korban ke atas keledainya (si Samaritan itu harus berjalan kaki), membawanya ke penginapan dan membayar penginapan, dan meminta agar si korban dirawat.
Kisah si Samaria tak berhenti di situ. Perhatian pada si derita dimeterai dalam ingatan penuh afektif, “Aku pasti kembali untuk memastikan bahwa ia sembuh, dan kelebihan biaya perawatan akan dikembalikan.” Bagi Yesus, bukan persoalan bahwa kaum pinggiran seperti masyarakat Samaria itu ‘tahu hukum atau tidak tahu hukum tentang siapa itu sesama.’
Di atas hukum masih ada cita rasa yang dimeterai dalam etika kebijaksanaan. Dan itu harus melampaui efek kepentingan sendiri dan kelompok. Si Samaria itu tunjukan belaskasih dalam sejadinya. Dan bisa jadi di dalam ‘sunyi penuh hening’ dan hanya si pemilik penginap yang mengetahuinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





