Cepat, Lugas dan Berimbang

Arogansi Yasukma Ambil Alih Pengelolaan Lembaga Pendidikan Paroki Rejeng

Alfred Hasman Rengka, Ketua Pengurus Unit Lembaga Pendidikan Santo Stefanus Ketang dalam sosialisasi tersebut lantang menolak atas keputusan tersebut.

Menurutnya, Yayasan Sukma dari dahulu tidak memiliki andil apapun baik konsep pengembangan sekolah maupun ketika krisis keuangangan melanda sekolah itu.

“Sekolah ini sering mengalami pasang surut. Dan, umat paroki berkali-kali ikut berkontribusi untuk menyelamatkan sekolah ini. Tapi, di saat kita mengalami kesulitan keuangan ke mana Yayasan Sukma?” Ujar Alfred Rengka.

Baca Juga: Yasukma Ruteng Pungut Iuran ke Siswa SDK, Guru: Hanya Tau Minta, Tapi Tak Pernah Beri

Alfred juga mengatakan kekwatirannya, jika dua sekolah itu dialihkan pengelolaanya oleh Yayasan Sukma maka pengelolaan yang begitu akrab dengan umat paroki dengan lingkungan Pendidikan St. Stefanus Ketang pasti diubah. Termasuk uang sekolah yang tidak pro dengan keadaan ekonomi masyarakat setempat.

“Visi misi sekolah Santu Stefanus Ketang adalah agar anak-anak di Paroki Rejeng ini dapat mengenyam pendidikan di sini saja. Tanpa harus sekolah di Ruteng. Kemudian visi misi sekolah ini juga bukan orientasi keuntungan. Biar murah tapi kesejahteraan guru tetap diperhatikan dan sekolah ini tetap berprestasi,” kata Alfred Rengka.

“Kemudian ketika dikelola oleh Sukma keuangannya pasti akan diubah. Pastikan disamaratakan dengan Fransiskus dan sekolah katolik lain. Sedangkan visi misi ingin membantu umat dibantu pendidikannya dengan mempertimbangkan ekonomi juga,” ungkap Alfred.

Pendekatan Kekuasaan dengan Mengabaikan Dialog

Alfred menilai, Uskup Ruteng maupun Yayasan Sukma lebih mengutamakan pendekatan kekuasaan keuskupan ketimbang dialog. Akibatnya, kata dia, surat keputusan yang diteken Uskup Ruteng jelas-jelas memojokkan peran pengurus unit yang selama ini telah berjasa membesarkan dua sekolah tersebut.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN