Pada titik inilah kepintaran memperoleh maknanya yang kedua. Bukan hanya sekedar tentang siapa yang paling sedikit salah, melainkan siapa yang paling mampu membaca makna dari kesalahannya. Bukan siapa yang paling cepat menyalahkan keadaan, melainkan siapa yang paling berani berkata, “Aku keliru, dan aku belajar.”
Filsafat kuno mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari kesadaran diri. Socrates bahkan menyebut sebagai pengakuan atas ketidaktahuan sebagai awal dari pengetahuan. Sehingga bisa dipahami bahwa setiap kesalahan bukanlah lawan dari kepintaran. Ia hanya pintu masuknya.
Namun, perlu dibedakan antara belajar dari kesalahan dan terjebak dalam pengulangan tanpa refleksi. Yang pertama melahirkan pertumbuhan. Kedua, melahirkan pembenaran. Kepintaran sejati bukan pada jumlah kesalahan yang dibuat, tetapi pada kualitas perenungan setelahnya.
Di sekolah, kita takut salah karena nilai bisa turun. Di kehidupan, dunia realitas kita takut salah karena harga diri bisa runtuh.
Padahal sering kali yang runtuh bukan harga diri, melainkan kesombongan yang selama ini kita pelihara.
Barangkali sudah saatnya kita mendidik generasi bukan hanya untuk menghindari kesalahan, tetapi untuk memahami kesalahan. Bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi untuk menumbuhkan keberanian bertanggung jawab. Sebab dunia nyata tidak membutuhkan manusia yang sekadar benar, melainkan manusia yang matang.
Pada akhirnya, kepintaran di ruang kelas bisa mengantarkan seseorang menuju gelar.Tetapi kepintaran di ruang kehidupanlah yang mengantarkan seseorang menuju kebijaksanaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











