infopertama.com – Kasus meninggalnya siswa sekolah dasar setelah diduga meniru tren “sujud freestyle” yang viral di media sosial menjadi peringatan serius tentang dampak psikologis konten digital terhadap anak.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjadi lingkungan psikologis yang sangat memengaruhi proses belajar perilaku anak. (nu.or.id).
Dalam psikologi perkembangan, anak usia sekolah dasar berada pada fase di mana kemampuan imitasi atau meniru masih sangat kuat. Anak belajar bukan hanya dari nasihat orang tua atau guru, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat secara berulang.
Ketika anak melihat sebuah perilaku dianggap menarik, viral, lucu, atau mendapatkan perhatian besar di media sosial, maka otak anak dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang layak dicoba.
Dosen Fakultas Psikolog UST Yogyakarta, Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M Psi., Psikolog menyebut fenomena ini berkaitan dengan teori observational learning dari Albert Bandura yang menjelaskan manusia belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain.
Dalam teori ini, individu tidak harus mengalami langsung suatu kejadian untuk mempelajari perilaku tertentu. Cukup dengan melihat model yang dianggap menarik atau populer, seseorang dapat terdorong untuk menirunya.
“Pada anak-anak, proses ini terjadi lebih kuat karena kemampuan berpikir kritis dan penilaian risiko mereka belum berkembang secara matang.” Ujar Flora Grace kepada infopertama.com, Kamis.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







