Cepat, Lugas dan Berimbang

Jangan Selalu Menyalahkan Sekolah: Mendidik Anak Adalah Kerja Bersama

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Setiap kali muncul kasus anak bermasalah entah itu soal disiplin, kekerasan, kecanduan gawai, atau krisis moral yang paling cepat disorot publik biasanya adalah sekolah. Guru ditanya, kurikulum dikritik, lembaga pendidikan diseret ke ruang penghakiman. Seolah-olah sekolah adalah satu-satunya pabrik pembentuk karakter. Padahal, jika kita menengok kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara, anggapan itu justru bertentangan dengan filosofi dasar pendidikan Indonesia.

Ki Hadjar sejak awal menegaskan bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri di dalam tembok sekolah. Ia merumuskan konsep Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tiga ruang ini membentuk satu ekosistem. Anak bukan makhluk yang jatuh dari langit ke ruang kelas. Ia datang dengan latar rumah, budaya, pengalaman, dan luka batin yang sudah lebih dulu membentuk dirinya.

Keluarga adalah sekolah pertama. Di sanalah anak belajar tentang bahasa, emosi, cara menyelesaikan konflik, dan makna kasih sayang. Sekolah kemudian menuntun akal dan budi. Masyarakat memberi panggung tempat anak menguji nilai yang ia terima. Jika salah satu pusat ini rapuh, yang lain tidak mungkin bekerja sendirian.

Namun dalam praktik, kita sering menaruh harapan yang terlalu besar pada sekolah. Kita berharap guru mengajar, mendidik, menanamkan etika, menyembuhkan trauma, sekaligus menjadi orang tua pengganti. Padahal waktu anak di sekolah hanya sebagian kecil dari hidupnya. Selebihnya ia berada di rumah, di jalan, di dunia digital, dan dalam relasi sosial yang kompleks.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN