Cepat, Lugas dan Berimbang

Jangan Selalu Menyalahkan Sekolah: Mendidik Anak Adalah Kerja Bersama

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa mendidik bukan memerintah, melainkan menuntun. Ia terkenal dengan semboyan: Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dorongan.

Makna terdalam dari semboyan ini adalah bahwa anak bukan objek yang dicetak, tetapi subjek yang tumbuh. Anak yang bermasalah bukan anak yang harus segera dihukum, melainkan anak yang sedang tersesat arah dan perlu dituntun kembali ke jalurnya.

Dalam konteks ini, sekolah seharusnya menjadi taman tempat tumbuh yang aman, manusiawi, dan memerdekakan. Guru bukan penguasa kelas, melainkan pamong yang menjaga agar anak berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Kodrat alam berarti potensi, bakat, dan karakter anak. Kodrat zaman berarti tantangan sosial, teknologi, dan budaya yang ia hadapi.

Ketika anak menunjukkan perilaku menyimpang, itu bukan sekadar masalah disiplin. Bisa jadi itu tanda bahwa ia sedang berjuang: melawan kesepian, tekanan, atau kekosongan makna. Jika kita hanya menyalahkan sekolah, kita sedang menutup mata terhadap persoalan yang lebih luas pola asuh di rumah, kultur kekerasan di masyarakat, dan arus nilai di media sosial.

Lebih berbahaya lagi, kebiasaan menyalahkan sekolah membuat kita lupa bercermin. Kita ingin solusi instan tanpa mau terlibat. Padahal Ki Hadjar mengajarkan bahwa pendidikan adalah kerja bersama. Negara, keluarga, guru, dan masyarakat harus saling menguatkan, bukan saling melempar beban.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN