infopertama.com – Siapa bilang pubertas hanya datang saat usia belasan? Banyak emak-emak di sekitar kita yang mengalami apa yang bisa disebut “puber kedua” – fase di mana perubahan fisik, emosional, dan sosial membuat mereka tampak lebih berisik ketimbang remaja dan terkadang bertindak jauh melampaui batas logika. Dan kini, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan yang memperkuat dinamika ini.
Media sosial menjadi panggung paling jujur untuk melihat perubahan itu. Emak-emak yang dulu dikenal kalem, sibuk dapur, keluarga, dan urusan rumah, kini tampil percaya diri di depan kamera. Joget, live berjam-jam, caption penuh emosi, dan komentar yang kadang lebih panas dari anak SMA.
Ini bukan cerita salah atau benar. Ini hanya pandangan dari sisi lain-tentang fase hidup yang jarang dibahas, tapi nyata terjadi.
Penyebabnya tak bisa dipisahkan dari perubahan hormonal saat mendekati masa menopause. Perasaan tidak nyaman dengan tubuh yang berubah, ketakutan akan penuaan, dan seringkali rasa tidak puas dengan dinamika hubungan atau kehidupan rumah tangga membuat emosi menjadi mudah meledak.
Mereka jadi lebih sering mengeluh – mulai dari rasa sakit sendi, cara anak atau suami berperilaku, hingga hal sepele seperti rasa makanan yang tidak sesuai selera – dan kini semua itu dibagikan di platform seperti Facebook, Instagram, atau TikTok yang kerap mereka gunakan.
Puber kedua bukan istilah medis, tapi fenomena sosial. la muncul ketika seseorang-khususnya perempuan dewasa -mengalami fase ingin diakui, dilihat, dan dirasakan kembali hidupnya setelah bertahun-tahun fokus pada orang lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







